beritadunesia-logo

Pesta Rakyat Maras Taun

 Maras Taun atau disebut juga Maras Taon. Bermuasal sejak kurun waktu yang tak diketahui pasti. Muncul dan berkembangnya prosesi itu seiring dengan pola pikir masyarakat tradisional Belitong. Mulanya penduduk atau masyarakat Belitong yang menempati bagian pesisir atau pedalaman daratan, hidup berelompok menempati wilayah pemukiman yang disebut Kubok dan Parong.

Penghuni Kubok merupakan komunitas kecil berasal dari sebuah keluarga yang kemudian berkembang menjadi beberapa keluarga hingga membentuk perkampungan kecil yang disebut Kubok dan Kubok ini dipimpin seorang yang dituakan disebut Kepala Kubok.

Penghuni Parong merupakan komunitas keluarga yang tidak berasal dari satu keluarga tapi dari beberapa keluarga dan jumlahnya lebih ramai hingga membentuk sebuah perkampungan.

Baik Parong atau pun Kubok dipimpin seorang ketua adat yang “dituakan” disebut kepala Parong atau kepala Kubok. “Dituakan” artinya memiliki kepiawaian, termasuk ilmu perdukunan, karenanya ketua kelompok itu juga otomatis merangkap menjadi dukun yang melindungi warganya.

Kemudian Parong atau Kubok beriring masa bertambah populasinya, ketika sudah menjadi sebuah perkampungan maka dukun tersebut tetap menjadi dukun sekaligus merangkap kepala kampungnya, kini dalam masyarakat Belitong dikenal adanya dukun kampong. Pola ini terus mentradisi hingga zaman ini, bahwa di tiap kampung harus tetap memiliki seorang dukun kampung disamping adanya lurah atau kepala desa sebagai pimpinan politis adminisratifnya.

Pembukaan Kubok atau Parong bermula dari membuka hutan guna untuk berladang padi tegalan; sebagai sumber makanan utamanya penduduk Belitong. Sebagai rasa syukur atas panen inilah kemudian diadakan perhelatan ritual Maras taun pada setiap tahunnya. Dalam rasa syukur ini dimintakan pada yang Maha Kuasa untuk keselamatan warga dan keberhasilan untuk panen di tahun mendatang. Rasa syukur ini pada awalnya disebut Memaras atau berselamatan tahun yang kemudian disebut saja dengan “Maras Taon atau Maras tahun.

Tentu saja ketika munculnya kerajaan Badau yang kemudian digantikan kerajaan Balok, Maras taon tetap hadir pada tiap kampung yang sudah tersebar di kawasan kerajaan tersebut. Tidak ada terdengar jika kerajaan atau raja mempengaruhi tradisi tersebut. Malahan pada masa pemerintahan Raja balok Depati Cakraningrat II KA Mending 1661-1696, pada dukun diberi kekuasaan penuh untuk mengatur wilayahnya masing-masing. Hubungan kerajaan dengan pola tradisi masyarakatnya tetap harmonis, meskipun kedua raja kerajaan tersebut berasal dari luar Pulau Belitung. Badau dari Majapahit yang dikenal dengan sebutan Ronggo Udo dan raja terakhirnya ulama dari Gresik Jawa Timur yang disebut Ki Ronggo Udo. Begitu pun dengan Kerajaan Balok dipimpin oleh Ki Gede Yakob dari Mataram. Dan hingga kini tardisi ritual Maras Taon tetap langgeng.

Aliran “Setara Guru” dan “Dukun Malaikat”, dua aliran perdukunan yang sampai kini masih dianut para dukun yang ada di Belitong. Dalam perkembangan sejarahnya, perdukunan atau dukun di tanah Belitong mengalami inkulturasi dari budaya tradisi sebelumnya ke tradisi Islam sesudah itu. Kurun saat ini, kedua aliran itu tetap eksis. Keduanya bisa berdampingan seiring perubahan zaman. Kedua aliran itu tidak pernah dipertentangkan masyarakat kecuali beberapa dekade sebelumnya, ketika pada masa pemerintahan Depati KA Bustam 1700-1740 yang berseteru dengan Syech Abubakar Abdullah. Yang kemudian dalam masa itu, memunculkan Kepala Penghulu Belitong pertama yaitu KA Siasip, sebagai memimpin spiritual masyarakat yang mengatasnamakan Islam guna menangani kekeruhan dua aliran tersebut.

Kedua aliran dukun tersebut memiliki misi yang sama dalam praktiknya yaitu membantu tiap warga yang ingin mendapatkan pertolongan atau keselamatan, kesehatan atau ketenangan, baik di bidang matapencaharian atau ketentraman dalam kehidupan.

Tidaklah begitu dapat dibuktikan tentang adanya dukun santet di Belitung, meski sering terdengar isu pada masyarakat tradisi jika ada makhluk peliharaan sang dukun yang bernama “Kedaong” dan “Pulong” bahkan bermacam isu dari makhluk pengganggu lainnya. Namun justru semua asumsi tentang makluk jahat itu menjadi lawan daripada dukun yang menjadi pelindung warga tersebut.

Berbedaan dari kedua aliran tersebut jelas berbeda namun ia tidak lahir secara beriringan; Setra Guru jelas lebih dulu hadir di Belitung sebagai aliran perdukunan tertua, Setra Guru yang juga disebut Setera Guru atau Sutra Guru yang berasal dari bahasa sanskerta yang berarti mantra mulia. Sedangkan aliran Dukun Malaikat muncul setelah Islam masuk. Maka perbedaannya terdapat pada pola mantranya. aliran Setra Guru pada awalnya masih menggunakan mantra murni tanpa adanya penyertaan ayat-ayat suci Alquran. Namun ada juga yang menggunakan mantra campuran misalnya awal pembukaan mantra menyebut nama Illahi kemudian diteruskan dengan Mantra tradisinya. Sedang aliran Dukun Malaikat, murni menggunakan ayat-ayat suci Alquran. Jika ditanya, mana yang lebih makbul atau mujarab, jawabnya tergantung niat baik orang perorang. Karena mantra adalah bahasa suci untuk menyampaian niat atau keinginan yang baik agar dikabulkan oleh yang Maha Kuasa.

Bagaimana kedudukan dukun kampung dalam dua aliran tersebut? : Pada sepanjang kurun waktu hingga kini, Dalam komunitas perkampungan yang jumlahnya ratusan bertebaran seantero Belitung, masyarakatnya tetaplah menghormati dua aliran tersebut hingga dua aliran itu tetap eksis meskipun kini rata-rata para dukun sudah beragama Islam, namun mantra atau jampi yang diyakini mereka saling berbeda satu sama lainnya. Hal ini tidaklah menjadi pertentangan dari warganya, sejauh hal itu mendatangkan kebaikan maka itu tak masalah. Contoh sederhana adalah ritual selamatan kampung yang sampai saat ini, masih memakai peran serta benda-benda yaitu “daun neruse”

Apakah ada atau tidak hubungannya dengan adat Maras Taon? : Tentu saja ada. Maras Taun yang artinya selamatan tahun, yang selalu diadakan usai panen. Mengapa usai panen, tentu saja bertimbangan ekonomis, yaitu disaat penduduk sedang mengalami surplus dari hasil panennya, atau jika tidak surplus maka ritual itu dijadikan evaluasi tahunan guna melihat sejauh mana keharmonisan hubungan antara manusia dan Maha Penciptanya